I Need Your Love
Part 1
"Sudah kubilang, aku tidak mau lagi meminum minuman keras. Tolong jangan paksa aku." BD menatap geram pada kawan-kawannya. Entah sudah ke berapa kalinya mereka menghasut BD agar kembali menjadi remaja yang nakal.
Salah satu kawannya yang mabok merangkul pundaknya. "Kalau begitu bagaimana kalau nanti sore kita balapan liar lagi di jalan. Kita bersenang-senang, Men!"
"Tidak!" BD menepis tangan lelaki yang merangkulnya. "Aku sudah insaf. Aku sudah berjanji pada kekasihku tidak akan melakukan hal-hal yang membuatnya malu."
"Hei, Bro! Bukan kah kau hanya pura-pura taubat di depan kekasihmu?" tanya temannya yang lain. "Tenang saja, kekasihmu tidak akan tahu tentang ini."
"Akupun berjanji pada diriku sendiri tidak akan berbohong pada kekasihku," jawab BD, "dan satu lagi, aku ingin keluar dari geng motor ini. Kalian tahu kan, kekasihku tidak akan suka kalau aku masih menjadi anggota geng motor."
"Apa?" pekik Salsha, sang ketua geng motor.
Salsha menatap tajam ke arah BD. Ia tidak rela BD keluar dari geng motornya itu. Jika Bd keluar, maka gadis itu akan jarang melihat BD lagi. Salsha memang menyukai BD sejak lama, namun karena gengsi ia tidak pernah mengungkapkannya. Waktu dulu pun, saat mengetahui jika BD telah menjalin hubungan dengan gadis lain, Salsha benar-benar marah. Bahkan saking marahnya, Salsha pernah menyuruh teman-teman di geng motornya untuk menculik kekasih BD, tapi tidak berhasil.
Salsha pun sengaja menyuruh teman-temannya membujuk BD agar meminum minuman keras lagi, agar ia bisa melapor pada gadis yang telah membuat lelaki pujaannya jatuh cinta itu, jika BD bukan lelaki yang baik karena ingkar janji.
Dengan kesal Salsha menghampiri BD. Ditatapnya lelaki itu dengan tatatapan membunuh. "Kau tidak bisa semudah itu keluar dari geng. Kalau kau ingin keluar dari geng motor ini, hadapi kita dulu."
Para anggota geng motor langsung mengerumuni BD, bersiap mengeroyok lelaki itu.
"Aku mohon jangan lakukan ini. Akupun sudah berjanji tidak akan berkelahi lagi." ujar BD
"Kenapa? Kau takut hah?"
'BUG' Jose melayangkan tinjunya ke arah BD. Seketika para anggota geng motor yang lain ikut menyerang lelaki itu. BD yang sudah berjanji pun terpaksa harus membalas hantaman mereka, karena tidak mungkin di saat seperti ini dia hanya diam.
Entah sedang beruntung atau apa, BD berhasil mengalahkan semua anggota geng motor yang menyerangnya. Sebagian anggota geng itu ada yang pingsan, sebagian laginya kabur. Salsha yang baik-baik saja karena tidak ikut berkelahi semakin dibuat marah.
"Bagaimana? Apa sekarang aku sudah bukan anggota dari geng ini lagi?" tanya BD pada Salsha.
"Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari geng ini!"
"Terserah apa katamu!" ujar BD sambil berlalu.
***
"Kau keluar dari geng motor itu? Akhirnya," Ajil tersenyum senang, "Seharusnya dari dulu kau melakukan ini."
"Iya, semua ini kulakukan karena kekasihku."
"Aku pensaran, siapa sih kekasihmu itu? Yang telah mengubahmu menjadi seperti ini."
Belum sempat BD menjawab pertanyaan sepupunya itu, tiba-tiba seorang gadis membuka pintu kamarnya dengan panik. Wajah gadis itu terlihat cemas begitu melihat BD yang babak belur.
"Sayang, kau kenapa? Yoriko meneponku dan bilang kalau dia melihatmu dikeroyok, apa itu benar?" tanya gadis itu saat sudah duduk di samping BD. "Setelah mendengar ucapan Yori, aku langsung saja ke sini. Padahal tadinya aku sedang kerja kelompok."
Gadis itu menyentuh wajah BD yang lebam, membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Wajahmu biru-biru. Jadi benar kalau tadi kau dikeroyok." Gadis itu memukul pelan dada BD. "Sudah kubilang kan, kau jangan cari masalah ke mereka. Kalau kau kenapa-napa bagaimana?" Air mata gadis itu menetes. BD langsung menyeka air mata itu.
"Tadi aku memang dikeroyok." jawab BD. "Aku bilang pada geng motor itu kalau aku ingin keluar dari geng, dan syarat agar aku bisa keluar aku harus bisa mengalahkan mereka semua. Kau tahu, aku menang melawan mereka, dan sekarang aku bukan anggota dari geng itu lagi."
Gadis itu langsung memeluk BD. "Kau membuatku khawatir, hiks."
"Jangan menangis! Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi." ucap BD sambil mengusap-usap pungung gadis itu.
"Oh, jadi ini gadis yang berhasil membuat BD berubah." ucap Ajil.
BD berdiri. "Iya, Jil. Ini dia orangnya, gadis yang membuatku jatuh cinta sejak pandangan pertama." BD menunjuk kekasihnya. "Sebelum dia menjadi murid baru di kelasku, aku sering membuat kekacauan di sekolah. Tawuran, berkelahi saat jam pelajaran, tidak pernah mengerjakan PR..."
"Hey! Sekarang pun kau masih kadang lupa mengerjakan PR." sela gadis itu.
"Kadang, beb! Kalau waktu itu tidak pernah sama sekali." BD kembali melanjutkan ucapannya yang tadi dipotong kekasihnya. "Selain itu nilai pelajarnku semakin membaik. Dari biasanya sering datap nilai tiga, sekarang naik menjadi lima..."
"Eh, lima kan masih kecil." Kini Ajil yang menyela.
"Yang penting nilainya naik! Aku juga tidak pernah bolos sekolah lagi, mabok-mabokan, kebut-kebutan di jalan dan semua hal buruk lainnya, semua kutinggalkan. Semua ini karena dia, kekasihku, (namapanjangkamu)."
Tiba-tiba BD berlutut di hadapan (namakamu)
"Kau tahu betapa bersyukurnya aku karena telah dipertemukan denganmu." BD mencium punggung tangan (namakamu). "Aku memang sempat marah pada tuhan karena dilahirkan di keluarga yang tidak pernah pnya waktu untuk anaknya. Namun tuhan mengirimmu."
(namakamu) tersenyum malu. "Aku juga bersyukur memiliki kekasih yang sangat menyayangiku, hingga mau berubah ke jalan yang benar."
"Ehem!" Ajil berdeham ketika BD dan (namakamu) berpelukan lagi. Seketika mereka melepaskan pelukannya.
"Beb, aku harus kembali ke rumah Bella. Tugas kelompokku belum selesai. Bye Baby." ujar (namakamu) lalu berlari ke arah pintu.
"Kau hebat! Kekasihmu sangat cantik, juga perhatian. Kapan ya aku dapat kekasih seperti (namakamu)?"
"Banyak kok, Jil, gadis cantik di luar sana."
"Ya tapi yang sikapnya seperti (namakamu) kan jarang." Ajil tersenyum jahil. "Apa aku rebut saja (namakamu) dari tanganmu."
BD menarik kerah baju Ajil. "Heh, apa maksudmu?"
"Bro, aku cuman bercanda." ujar Ajil membuat BD melepaskan tangannya dari kerah baju sepupunya itu.
Tiba-tiba ponsel BD berdering. Ketika melihat nama kekasihnya di layar, BD lansung mengangkat telpon itu.
"Ada apa, sayang? Ada yang ketinggalan?"
"Tidak. Aku hanya lupa mengatakan kepadamu jangan lupa makan siang! Sudah makan siang, jangan lupa mengerjakan PR! Jangan seperti kemarin, PR tidak dikerjakan. Kau tidak mau kan disuruh hormat tiang bendera lagi?" BD hanya tersenyum mendengar ocehan kekasihnya di seberang sana. "Oh ya, nanti sore kita ketemuan di taman. Jangan lupa izin dulu sama orang tuamu! Kalau mereka tidak memberi izin, jangan berangkat! Jangan lupa juga nanti malam belajar! Besok kan ada ulangan matematika. Kalau kau dapat nilai kecil, aku tidak mau menyapamu selama tiga hari."
"Iya sayang, iya! Udah ngomongnya?"
"Maaf, aku terlalu banyak bicara ya?"
BD tertawa kecil. "Tidak apa-apa, aku malah senang kau seperti itu. Itu bukti kalau kau perhatian padaku. Orang tuaku saja belum pernah seperhatian itu, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya."
"Ya sudah, aku tutup dulu ya telponnya. Bye sayang, i love you."
"I love you too."
Setelah panggilan terputus, BD langsung mencium ponselnya.
"Kau lihat, seberapa perhatiannya kekasihku padaku?" tanya BD pada Ajil.
"Iya, kau membuatku iri saja." jawab Ajil. "Jaga kekasihmu baik-baik, jangan sampai selingkuh denganku."
"Eh sialan!" bentak BD sambil menendang Ajil.
"Haha, aku bercanda, bro! Kau selalu menganggapku serius."
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar