Rabu, 26 Oktober 2016

I Need Your Love Part 3

I Need Your Love

Part 3

Para anggota geng motor itu mengendap-ngendap mengikuti (namakamu) yang berjalan di trotoar. Jalanan saat itu ramai, sehingga para anggota geng motor yang berniat menculik (namakamu) harus menunggu sampai gadis itu berada di jalan yang sepi.

Saat berada di jalan yang mulai lenggang dan mereka sudah bersiap-siap untuk menyergap gadis itu, (namakamu) malah mempercepat jalannya. Belum sempat mereka melakukan aksi penculikannya, gadis yang akan menjadi korban mereka malah terlebih dahulu memasuki sebuah restoran. Para anggota geng motor itu hanya berdiri di depan restoran sambil merutuki keterlambatan mereka.

"Sudah kubilang, harusnya kita culik dia dari tadi! Sekarang terlambat! Gadis itu masuk restoran," gerutu salah satu anggota geng.

"Restoran ini ada di kawasan yang sepi, mungkin saja di dalamnya juga sepi. Kita bisa membuat kekacauan di restoran itu lalu menculik (namakamu)." Salsha menyunggingkan senyum jahat.

Ide Salsha itu disetujui oleh semua angggota Geng. Mereka pun langsung melangkah menuju pintu restoran, namun tiba-tiba mereka berhenti di ambang pintu karena melihat sesuatu yang menurut mereka aneh di dalam sana. Terlihat (namakamu) sedang berpelukan dengan seorang lelaki yang sepertinya sebaya dengannya. Dan yang jelas, lelaki itu bukan BD.

Niaat masuk pun mereka urungkan. Para anggota geng motor itu lebih memilih berdiri di depan jendela untuk memperhatikan (namakamu) dan lelaki itu di dalam sana.

"Siapa lelaki itu?" tanya Jose. "Mengapa (namakamu) memeluknya?"

"Mungkin saudaranya." jawab salah satu kawannya.

"Bagaimana kalau selingkuhannya," celetuk Salsha membuat semua anggota geng menoleh padanya. "Bisa saja bukan? (namakamu) kan gadis cantik. Pasti banyak lelaki yang jatuh cinta padanya. Jika salah satu dari mereka ada yang lebih tampan atau lebih kaya dari BD, (namakamu) pasti tidak akan menolak mereka bukan."

"Tapi apa mungkin (namakamu) seperti itu? Dari wajahnya aku bisa melihat kalau dia itu gadis yang setia dan sangat cinta pada BD. Buktinya dia mau menerima BD apa adanya, bahkan bisa membuat BD berubah," ucap Jose.

Salsha merogoh ponselnya dan mulai mengetik. "Lebih baik kita tanyakan pada BD tentang ini."

***

BD berjalan gontai memasuki rumahnya. Buket bunga yang sedari tadi ia genggam dilempar begitu saja ke sofa. Entah mengapa saat (namakamu) menelpon dan mengatakan jika gadis itu membatalkan kencannya, BD merasa sangat kesal. Memang berkencan bisa dilakukan kapan saja, bahkan besok pun bisa. Namun kali ini BD sudah menyiapkan sebuah kejutan dan (namakamu) belum sempat melihatnya. Padahal BD sudah capek menyiapkan kejutan itu.

"Lho, kenapa kau sudah pulang?" tanya Ajil yang baru turun dari tangga.

"(namakamu) tidak bisa datang karena adiknya sakit," sahutnya sambil menghempaskan tubuhnya yang lemas ke sofa.

Ajil tertawa kecil sambil duduk di samping sepupunya itu. "Kasihan sekali. Kalau begitu kau kencan saja denganku. Kebetulan aku tidak punya kegiatan hari ini."

BD menjitak kepala Ajil karena kesal. "Kau pikir aku gay yang berkencan dengan sesama pria. Dasar kau ini!"

"Kalem, Bro. Aku cuman bercanda!" Ajil mengusap-usap kepalanya. "Kau selalu menganggap serius semua hal, apa kau tidak bisa diajak bercanda, hah?"

BD Tidak menjawab pertanyaan Ajil karena tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering, pertanda ada panggilan masuk. Saat membaca nama 'Salsha' di layar, lelaki itu langsung melempar ponselnya ke sofa di sebrang. Gadis itu pasti menelponnya untuk marah-marah karena ia keluar dari geng dan membuat para anggotanya babak belur. Ayolah, BD sedang malas mendengar ocehannya.

"Telepon dari ibumu lagi ya?"

"Bukan."

"Lalu kenapa dibanting?"

"Itu panggilan dari ketua geng motor sialan itu. Aku tidak mau mengangkatnya!"

Ponsel itu berhenti berdering beberapa detik, kemudian kembali berdering dan BD tetap tidak mau mengangkatnya. Setelah ponsel itu tujuh kali melantunkan lagu milik sebuah Band bernama MBM yang berjudul 'Cuma Kamu' tiba-tiba lantuan musik sangat singkat terdengar dari ponsel itu, pertanda jika kini sebuah BBM yang masuk.

BD masih tidak mau beranjak dari sofa, malah Ajil yang penasaran dengan pesan itu. Rasa penasaran itu lah yang membuat Ajil mengambil ponsel BD dan membuka pesannya, BD pun sepertinya tidak keberatan dengan yang sepupunya lakukan.

"Gila, Bro! (namakamu) selingkuh!"

"Apa maksudmu?" tanya BD sambil menghampiri sepupunya itu.

BD terbelalak ketika membaca sebuah pesan dari Salsha yang menjelaskan jika (namakamu) sedang berada di restoran bersama seorang pria. Salsha juga mengirimkan sebuah foto (namakamu) yang sedang berpelukan dengan pria tersebut.

Tiba-tiba BD teringat saat dulu pernah membahas tentang saudara laki-laki bersama (namakamu). Gadis itu mengatakan tidak memiliki saudara lelaki, atau sepupu semenjak kakak lelakinya meninggal. Lalu siapa pria yang sedang berpelukan dengan (namakamu)? Apa mungkin pamannya, tapi apa tidak terlalu muda? Berbagai pertanyaaan memenuhi otak BD.

"Bukanya kau tadi bilang kalau (namakamu) tidak jadi kencan karena adinya sakit, lalu mengapa sekarang ia ada di restoran? Harusnya dia menemani adiknya itu."

BD tidak menjawab, karena dirinya pun sama-sama mempertanyakan itu. Dengan gesit BD menyambar ponselnya lalu menghubungi Salsha.

"Apa maksud foto itu? Siapa lelaki yang bersama (namakamu)?" tanya BD saat sudah terhubung dengan Salsha.

"Aku juga tidak tahu. Jose mengira lelaki itu saudaranya (namakamu), namun entah mengapa aku malah menduga jika lelaki itu selingkuhannya (namakamu). Karena bingung, kita langsung menelponmu."

"Kau pasti berbohong! Foto itu editan! (namakamu) tidak mungkin sekarang berada di restoran, karena sebelumnya dia menelponku dan bilang kalau dia harus mengantar adiknya ke klinik."

"Kalau begitu, berarti benar dia selingkuh. Untuk apa dia berbohong padamu hanya untuk bertemu pria lain jika pria itu bukan selingkuhannya. Kalau kau tidak percaya padaku, kau datang saja ke sini..." Salsha lalu menyebutkan nama restoran itu dan alamatnya. "Cepat lah! Keburu mereka pergi."

***

(namakamu) menoleh ke belakang untuk ke sekian kalinya. Entah mengapa ia merasa sedari tadi ada yang mengikutinya. Tapi saat menoleh, ia tidak melihat siapa pun. Mungkin hanya perasaan saja, pikir (namakamu).

Saat jalanan mulai lenggang, saat kendaraan hanya sedikit yang berlalu lalang, suara langkah kaki dari belakang terdengar sangat jelas. Namun lagi-lagi (Namakamu) tidak menemukan siapa pun saat menoleh ke belakang membuatnya bingung.

Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, namun tiba-tiba ia berhenti untuk mengambil sebuah cermin dari dalam tas kecil yang ia jinjing. (namakamu) pura-pura membenarkan rambutnya di depan cermin itu, padahal ia hanya ingin melihat keadaan di belakangnya dari cermin. Matanya seketika membelalak ketika melihat orang yang ia ketahui ketua geng motor yang kalau tidak salah bernama Salsha, dan beberapa lelaki sedang berdiri di belakangnya.

(namakamu) langsung menoleh ke belakang lagi, namun mereka tidak ada. Mereka pasti bersembunyi di balik tembok itu, dan pastinya mereka sedang mengincar (namakamu). Tubuh gadis itu mendadak bergetar karena takut. Ia jadi menyesal memilih jalan kaki hanya karena jarak rumahnya dan restoran itu hanya beberapa meter. (namakamu) menatap lurus ke depan. Jaraknya dengan restoran yang ia tuju hanya beberapa langkah lagi. Dengan cepat (namakamu) melangkahkan kakinya.

Ketika sampai di restoran dan menemukan Karel di salah satu meja, (namakamu) langsung menghampiri lelaki itu lalu memeluknya dengan erat. Karel nampak kaget mendapati pelukan (namakamu), lalu ia tersenyum meringis ketika melihat beberapa pengunjung restoran menatap ke arahnya dengan tatapan aneh. Buru-buru Karel mencoba melepaskan pelukan gadis itu, tapi tidak berhasil karena pelukan gadis itu sangat erat.

"(namakamu), aku tahu kau merindukanku. Tapi haruskah kau memelukku seperti ini di dalam restoran."

"Karel, aku takut," desis (namakamu) dengan suara bergetar.

"Takut? Takut apa?"

"Anggota geng motor itu mengikutiku selama perjalanan. Mereka pasti ingin menyakitiku. Aku takut mereka ke sini lalu menyakitiku."

Karel mengusap-usap punggung (namakamu) yang masih memeluknya dengan erat. "Sudah lah jangan takut! Ada aku di sini. Aku akan menjagamu."

(namakamu) mengangguk seraya menyeka air matanya.

Akhirnya (namakamu) melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi. Karel mengambil selembar tisu di meja, lalu ia usapkan pada pipi gadis itu yang dialiri air mata.

"Jangan menangis! Lihat, pipimu jadi hitam-hitam karena celakmu yang luntur."

(namakamu) menepis tangan Karel lalu mengambil selembar tisu lain. "Aku bisa membersihkannya sendiri," ujarnya sambil menggosok-gosok pipinya.

Karel menyunggingkan senyum. "Tumben kau memakai make up."

"Memangnya kenapa? Aku kan sekarang sudah berubah. Aku bukan si culun jelek yang dulu selalu kau ejek."

"Kau pasti belajar dari adikmu ya? Cassie memang hebat bisa membuatmu jadi cantik seperti ini."

(namakamu) menyimpan tisunya lalu berkacak pinggang. "Hei! Dari dulu aku sudah cantik, buktinya BD sampai tergila-gila padaku. Bahkan menurut BD, aku lebih cantik tanpa make up, katanya aku terlihat lebih natural."

"Siapa BD? pacarmu ya?"

"Iya. Dia itu lelaki yang sangat tampan. Aku beruntung bisa menjadi kekasihnya. Dia itu bule, tubuhnya tinggi, kulitnya putih, hidungnya mancung, rambutnya berjambul, dan belahan dagunya itu lho yang paling kusuka."

"Wah! ciri-cirinya kok sama seperti lelaki yang sedang menghampiri kita dengan mata melotot itu ya." ujar Karel sambil menunjuk seseorang.

(namakamu) menoleh ke arah yang ditunjuk Karel. Matanya seketika membulat ketika melihat BD sedang berjalan ke arahnya. Mengapa lelaki itu ada di sini? tanya (namakamu) dalam hati.

Baru saja (namakamu) hendak berfikir jawaban apa yang akan ia lontarkan jika BD bertanya nanti, lelaki itu sudah berada di sampingnya lalu menggebrak meja.

"Ini yang kau bilang pergi ke klinik untuk menemani adikmu yang sakit?"

"BD, aku... aku..."

"Aku apa? Kau berbohong padaku! Kau bilang kau ke klinik tapi nyatanya kau di sini bersama lelaki lain." bentak BD sambil menunjuk-nunjuk wajah (namakamu).

"BD dengarkan penjelasanku..."

"Kau bahkan berdandan untuk menemuinya." sela BD sambil memperhatikan (namakamu) dari atas kepala sampai kaki. "Kau pengkhianat!! dan kau..." BD menghampiri Karel lalu menarik kerah baju lelaki itu. "Berani sekali kau berselingkuh dengan kekasihku?"

(namakamu) menghampiri BD dan mencoba menarik kekasihnya itu dari Karel. "BD jangan sakiti dia, dia tidak tahu apa-apa. Kau salah paham."

BD menoleh. "Salah paham apa? Jelas-jelas kau membohongiku hanya untuk bertemu dengannya."

"BD, ini tidak seperti..."

"Kau bahkan berani berpelukan dengannya."

"BD, dengarkan dulu..."

"Untung saja Salsha memberitahuku kalau kau ada di sini. Dasar pengkhianat! Apa sebenarnya selama ini kau tidak mencintaiku?"

"Bid, kau..."

"Selama ini kau selingkuh? Lalu untuk apa kau berpacaran denganku, hah?" BD mendorong tubuh (namakamu) hingga terhempas kasar di kursi.

Karel menepuk pundak BD. "Hei, tenang lah! Kau sepertinya salah paham! Aku dan (namakamu) tidak ada hubungan apa-apa, kita hanya bersahabat."

BD membalikan badannya menghadap Karel. "Kalau hanya sahabat, lalu mengapa (namakamu) harus berbohong padaku? Dia bilang kalau dia akan ke klinik, tapi nyatanya dia malah menemuimu."

"(namakamu), kenapa kau berbohong padanya?" tanya Karel.

(namakamu) bangkit berdiri lalu meraih tangan kekasihnya. "Bid, maafkan aku. Aku memang berbohong. Aku bohong karena aku takut kalau kau akan marah jika tahu aku membatalkan kencan kita hanya untuk menemui Karel. Karel sahabatku saat SMP yang beberapa tahun lalu pindah ke Jakarta, dan saat dia bilang kalau dia ada di restoran ini, aku langsung ingin menemuinya karena aku sangat merindukannya. Aku pikir berkencan denganmu bisa lain kali, tapi bertemu dengan Karel... Setelah ini Karel akan ke Jakarta lagi, dan pastinya aku akan susah menemuinya."

"Siapa bilang aku akan ke Jakarta lagi? (nam...), kau lupa ya kalau aku sudah pindah lagi ke daerah sini?" tanya Karel.

(namakamu) hanya diam sambil berpikir.

"Semua ini hanya salah paham. Kau lebih baik duduk," Karel menepuk kursi di sebelahnya, "dan surutkan amarahmu."

"Kau tidak berbohong padaku kan (nam...)?" tanya BD

"Tidak, bid. Kau percaya kan padaku?"

Sebenarnya (namakamu) berbohong lagi. Ia tidak lupa jika Karel sudah pindah lagi ke daerah sini, tentu saja (namakamu) masih ingat. (namakamu) lebih memilih bertemu dengan Karel ketimbang berkencan dengan kekasihnya karena ia sangat merindukan Karel. Dan saat (namakamu) tahu jika Karel ada di restoran ini, (namakamu) langsung ingin menemuinya karena rasa rindu itu.

"Aku Karel, sahabat (namakamu) dari SMP sampai sekarang." Karel menjulurkan tangannya pada BD.

"Bryan Elmi Domani, kekasih (namakamu) dari satu tahun lalu sampai sekarang." jawab BD sambil menjabat tangan Karel. "Ngomong-ngomong, aku memang pecemburu! Jika (namakamu) jujur, aku pasti tidak akan menginzinkannya bertemu denganmu. Tapi sekarang aku tidak akan terlalu pecemburu lagi jika akhirnya (namakamu) akan berbohong padaku."

"Cemburu boleh saja karena itu tanda sayang. Tapi kalau terlalu cemburu... Sepetinya tidak baik juga. Entar (namakamu) malah kesal padamu lagi." ujar Karel. "Oh ya, setelah ini rencananya aku dan (namakamu) akan bermain bersama, mengenang masa-masa dulu saat kita bersahabat. Tapi sepertinya kau harus ikut, takutnya kau akan berpikiran negatif lagi tentang aku dan (namakamu)."

"Ikut?" tanya BD.

Karel mengangguk.

BD tersenyum sarkastik. Karel ingin dia ikut bersama mereka? Apa Karel tidak takut akan merasa bosan karena dijadikan obat nyamuk? Mungkin saat bermain, (namakamu) akan sering berdua dengan BD, dan Karel diabaikan sendiri.

Namun setelah habis dari restoran lalu pergi ke taman, entah mengapa BD lah yang merasa seperti obat nyamuk. (namakamu) asyik bermain sepedah dengan Karel, sedangkan BD hanya bisa melihat dari kursi taman karena dia memang tidak punya sepedah. Bahkan Karel tidak menawari sepedahnya untuk dipinjamkan pada BD. Mereka terlalu asyik bermain berdua.

Saat tadi di restoran pun, (namakamu) dan Karel asyik mengobrol berdua membahas masa lalu mereka saat SMP. Sedangkan BD hanya diam mendengarkan.

Setelah bersepedah di taman, mereka pergi ke danau yang ada di belakang rumah (namakamu). (namakamu) dan Karel menaiki perahu berdua, sedangkan BD hanya menunggu di tepi danau karena di sana hanya ada satu perahu yang hanya bisa ditumpangi dua orang.

Ketika perahu yang ditumpangi mereka menepi dan mereka telah turun, BD langsung menaiki perahu itu dan menyuruh (namakamu) kembali menaiki perahu bersamanya. Namun (namakamu) menolak.

"Aku tadi menaiki perahu itu setengah jam, bid. Aku bosan kalau harus naik perahu lagi."

"Tapi kan kali ini denganku."

"Nanti saja, bid. Mending sekarang kita bermain gelembung, kan seru."

"Benar, saat SMP kan kita sering bermain gelembung. Aku kangen bermain gelembung lagi denganmu (nam..)," Karel ikut bersuara.

"Aku juga, Rel. Ayo kita ke rumahku untuk bermain gelembung," (namakamu) mengaleng tangan Karel tanpa merasa bersalah pada BD, "Ayo bid!" teriaknya sambil terus berjalan.

BD tidak ikut melangkah. Ia tetap berdiri mematung di atas perahu. Ditatapnya dengan tajam (Namakamu) dan Karel yang terus melangkah menjauh tanpa menyadari jika BD masih di sini.

"Sial!!" gumam BD sambil melempar dayung.

Entah mengapa setelah itu perahu yang ditumpangi BD mendadak tidak seimbang, dan...

'BYUR' BD tercebur ke danau bersamaan dengan terbaliknya perahu itu. untung saja danau itu tidak terlalu dalam, hanya seleher dari tinggi BD. BD mengusap wajahnya lalu menatap punggung (namakamu) dan Karel yang semakin menjauh. Bahkan sampai saat ini pun kedua insan bersahabat itu masih belum menyadari jika BD tidak mengikuti mereka.

Dengan kesal BD mencoba keluar dari Danau itu. Kemudian ia melangkah dengan cepat, tapi bukan lurus ke arah (namakamu) dan Karel, BD belok ke kiri entah akan kemana.

***

Sementara itu Salsha dan anggota geng motor lainnya sedang menongkrong di pinggir jalan bersama motor ninja mereka. Para anggota geng yang semuanya lelaki itu terlihat kesal karena tidak jadi menculik (namakamu). Sedangkan sang ketua, malah senyum-senyum tidak jelas.

"Sha, mengapa kau malah terlihat senang? Harusnya kau kesal karena tidak jadi menculik gadis cantik itu." tanya Jose

Salsha tidak menjawab. Dia masih senyum-senyum tidak jelas.

"Salsha!" teriak Jose.

"Eh iya, apa? Apa?" tanya Salsha saat sudah sadar dari lamunannya

Jose berdecak kesal. "Kau kenapa sih, dari tadi senyum-senyum sendiri seperti orang sedang jatuh cinta?"

Saat Salsha hendak membuka mulutnya, tiba-tiba para anggota geng motor itu melihat BD sedang berjalan ke arah mereka. Mereka nampak kebingungan melihat BD yang basah kuyup dan wajahnya yang tidak enak dilihat.

Saat BD sudah dekat, salah satu anggota geng langsung merangkul pundaknya sambil bertanya, "Apa yang terjadi padamu? Mengapa basah kuyup seperti ini?"

"Ya ampun, BD. Kau kenapa?" tanya Salsha sambil menghampiri BD. Ia langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangan yang bergambar motor, lalu ia usapkan pada wajah BD.

BD menepis tangan Salsha membuat gadis itu cemberut.

"Kau kenapa sampai basah kuyup seperti ini, Bid? Jangan bilang kalau kau mencoba menenggelamkan dirimu di danau karena habis putus dengan (namakamu)." tanya Salsha.

"Sudah kuduga dia tidak akan setia." ujar anggota geng yang masih merangkul pundak BD. "Kau tahu siapa orang yang setia padamu? Tentu saja kita-kita, sahabatmu."

BD menepis kasar tangan lelaki yang merangkul pundaknya. "Kalian bukan sahabatku! Dan kalian jangan sok tahu!" bentaknya sambil melangkah meninggalkan mereka.

"Dasar tidak tahu terima kasih!" umpat Jose. "Kita kan sudah menunjukan bagaimana (namakamu) yang sebenarnya, tapi dia tetap seperti itu."

"Namanya juga orang baru putus cinta, Jo. Pasti seperti itu." ujar Salsha.

Tiba-tiba Salsha melompat-lompat tidak jelas.

"Akhirnya yang kutunggu-tunggu tiba. BD putus dengan (namakamu), yeeeess yuhuuuu." teriak Salsha membuat para agota geng menerutkan kening.

"Kau terlihat sangat senang dengan
putusnya BD dan (namakamu). Janngan-jangan selama ini kau jatuh cinta pada BD." ujar Jose.
Salsha berhenti melompat. "Ti... ti... tidak, aku memang senang BD putus dengan gadis itu, karena pasti setelah ini BD akan kembali pada kita. Yeeeee!"

Devika Sari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar